Date:

Share:

Raih Posisi 5 Besar Duta CBP Rupiah, Paramita Kinanti Ingin Pendidikan nonformal Lebih Dikenal

Related Articles

“wow keren..wow, wow keren,”
“wow keren..wow, wow keren,”

Teriakkan itu terus menggema di dalam gedung sejak Master of Ceremony (MC) membuka acara puncak pemilihan Duta Guru dan Duta Muda CBP Rupiah 2025.

Dukungan berupa teriakan itu silih berganti dari dua sisi yang berbeda; kiri dan kanan. Secara kompak, mereka bersorak sorai untuk mendukung gurunya. Suasana di dalam gedung semakin meriah ketika Visual Jocky mulai memainkan pencahayaan.

Cinta Bangga Paham (CBP) Rupiah adalah program nasional sosial edukasi dari Bank Indonesia terkait mata uang rupiah.

**

PKBM Hutuo Lestari – Hari itu, Sabtu (19/7) adalah puncak acara pemilihan calon Duta Guru dan Duta Muda CBP Rupiah 2025 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo. Mereka yang terpilih akan menjadi agen perubahan–sekaligus perpanjangan tangan Bank Indonesia dalam menyosialisasikan dan mengedukasi mata uang rupiah kepada masyarakat. Total ada 20 finalis dari Duta Muda, dan 20 finalis Duta Guru.

Peserta Duta Muda merupakan mereka yang berusia relatif muda–mayoritas masih berstatus mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Gorontalo. Sementara peserta Duta Guru 95 persen adalah tenaga pendidik di sekolah formal, baik SD, SMP, maupun SMA.

Kenapa tidak genap 100 persen?

Karena 5 persennya dimiliki oleh Fitri Fathia Paramita Kinanti–satu-satunya peserta Calon Duta Guru CBP Rupiah yang tidak berasal dari sekolah formal, melainkan nonformal.

Perempuan 32 tahun yang akrab disapa Kinan itu saat ini menjabat sebagai guru sekaligus Kepala PKBM Hutuo Lestari, salah satu lembaga pendidikan nonformal yang berdomisili di Kabupaten Gorontalo.

“waktu baca di poster Bank Indonesia, dan ternyata dibuka untuk sederajat. Jadi merasa BI memberikan kesempatan bagi pendidikan nonformal juga,” kata Kinan saat bercerita awal mula mengikuti ajang ini.

Kinan mengatakan jika saat ini sudah tidak ada lagi batasan, baik itu pendidikan formal maupun nonformal. Meski begitu dirinya mengaku sempat terkejut saat pertama kali tahu peserta lainnya merupakan guru-guru terbaik dari sekolah-sekolah favorit di Gorontalo.

“Bisa dibayangkan gimana rasanya berada di tengah-tengah guru dari sekolah-sekolah formal unggulan?” katanya.

Sejak awal mengikuti ajang ini, Ia hanya bertekad untuk melakukan yang terbaik sepanjang proses pemilihan calon Duta Guru CBP Rupiah.

“saya hanya berusaha do my best!” tegasnya.

Minggu kedua bulan Mei 2025, panitia mengumumkan hasil seleksi awal calon duta guru. Sebanyak 46 orang lolos tahap awal seleksi administrasi, dan nama Fitri Fathia Paramita Kinanti ada dalam daftar itu.

Proses seleksi masih terus berlangsung. Berbagai kegiatan sosialisasi, dan edukasi ke masyarakat terus dilakukan yang kemudian dikemas menjadi konten media sosial sebagai salah satu tahapan penilaian.

Hingga akhirnya pada Juli 2025, panitia kembali mengumumkan 20 finalis calon duta guru, dan nama Fitri Fathia Paramita Kinanti tetap ada di dalam daftar tersebut.

Sebagai seorang tenaga pendidik nonformal, Ia beberapa kali melakukan sosialisasi dan edukasi di tempat-tempat yang berbeda, dan jarak yang jauh dari pusat kota. Hal ini juga yang membedakan dengan para peserta lain yang notabenenya guru sekolah formal.

“Ya, salah satu motivasi saya ikut ajang ini juga untuk mengenalkan pendidikan nonformal ke masyarakat luas,” terangnya.

Sepuluh Besar, Hingga Lima Besar

“Selanjutnya, siapakah yang akan masuk ke babak 10 besar calon Duta Guru CBP Rupiah 2025?”

“Nomor urut 08!”

Terdengar begitu kompak ketika kedua Master of Ceremony (MC) menyebut nomor urut 08–nomor Fitri Fathia Paramita Kinanti sebagai peserta ketiga yang lolos ke babak 10 besar.

Sesi Studi Kasus Grand Final Duta Guru CBP Rupiah Bank Indonesia Gorontalo 2025. (Foto: Humas BI Gorontalo)

“bagi saya nomor 08 ini hoki (keberuntungan) karena sesuai dengan tanggal lahir saya,” kelakar Kinan.

Dirinya tidak ada keyakinan yang besar untuk bisa sampai di Top 10. Karena menurutnya, peserta lain juga menunjukkan performa yang sangat baik pada saat sesi Public Speech.

“pokoknya semua peserta itu sebenarnya pantas untuk menjadi juara satu,” katanya.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo sepertinya berhasil membuat seisi gedung Azlea Convention Centre bergemuruh malam itu, terlebih perlombaan sudah memasuki babak 10 besar, dan akan segera diumumkan siapa saja peserta yang layak masuk ke 5 besar.

Malam kian larut, namun tidak sedikitpun terlihat para tamu undangan menyurutkan semangat dalam memberikan dukungan.

Dari 10 besar peserta yang lolos, hampir semuanya memiliki pendukung yang cukup banyak. Mereka berteriak kencang memberikan semangat kepada guru jagoannya.

“pendukung saya, ya anak saya, suami saya, dan mama saya,” kata Kinan, tertawa.

Hal ini memang tidak bisa dipungkiri, peserta yang berasal dari sekolah formal memiliki siswa yang secara usia, merupakan usia sekolah. Sementara pendidikan nonformal, lebih banyak bukan usia sekolah.

“jam segini siswa saya pasti udah istirahat, karena besok harus bekerja, ada yang ke pasar, narik bentor, ke sawah, atau yang lainnya,” imbuhnya.

Ia tidak menyangka namanya kembali disebut oleh MC sebagai peserta yang lolos ke babak 5 besar.

Ia mengaku terkejut “terkejut banget, bahkan ada di mode tidak percaya. Karena peserta lainnya (10 besar) itu hebat-hebat.”

Meski memiliki kepercayaan diri yang tinggi sejak awal mengikuti ajang ini, Kinan mengaku tidak berekspektasi tinggi, apalagi sampai masuk ke 5 besar.

Bahkan hingga malam puncak pemilihan, dirinya belum punya persiapan matang terkait materi studi kasus yang menjadi salah satu penilaian.

Kinan berharap apa yang dicapainya pada ajang Duta Guru CBP Rupiah 2025 ini bisa menjadi semangat tersendiri bagi pegiat pendidikan nonformal lainnya.

Sebagai satu-satunya peserta dari pendidikan nonformal, Kinan mengaku tidak hanya mewakili PKBM Hutuo Lestari sebagai lembaga tempatnya mengabdi, tetapi juga mewakili pendidikan nonformal.

Kinan menegaskan, tidak percaya diri bukan menjadi alasan bagi para pegiat pendidikan nonformal untuk mengikuti ajang seperti ini. Karena penilaian dari setiap ajang bukan secara kelembagaan.

“tim juri kan melakukan penilaian misalnya seperti psikotest. Berartikan itu benar-benar secara personal, lebih ke bagaimana perilaku sosial, emosional nya,” tegasnya.

Kinan juga menggambarkan penilaian lain yang dilakukan oleh tim juri saat masa karantina. Menurutnya tidak ada bedanya antara pendidikan formal dan pendidikan nonformal, meski di pendidikan nonformal siswanya heterogen.

“misalnya micro teaching, kan di pendidikan nonformal juga ada supervisi bagaimana kita mengajar dan metode mengajarnya juga sama, tidak ada bedanya,” tambahnya.

Sebagai guru sekaligus kepala PKBM Hutuo Lestari, dan juga Ketua Forum PKBM Kabupaten Gorontalo, Kinan berharap kedepan banyak guru, tutor, atau pamong dari pendidikan nonformal yang berani unjuk gigi dalam ajang seperti ini.

Ia mengatakan jangan pernah takut, atau minder meski ajang tersebut lebih banyak diikuti oleh guru dari sekolah formal.

“jangan pernah langsung menjustifikasi diri, dan berpikir bahwa dari sekolah formal yang lebih layak. Karena selagi masih bisa diperjuangkan, ayo sama-sama kita perjuangkan,” tutupnya.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles