Date:

Share:

Bersaing Melamar Pekerjaan, Alumni PKBM Hutuo Lestari: Meski Dari Nonformal, Tidak Usah Malu!

Related Articles

Melanjutkan jenjang pendidikan merupakan keputusan setiap individu, sebab masing-masing orang memiliki perjalanan pendidikan yang berbeda-beda.

Sementara itu, memilih pendidikan kesetaraan sebagai jalur melanjutkan pendidikan membutuhkan niat, tekad, dan keberanian.

PKBM Hutuo Lestari – Siang itu telepon genggam Paramita Kinanti berdering. Dari kejauhan, samar terdengar suara laki-laki menanyakan keberadaan Kinan hari itu.

“saya di rumah, kalau mau kesini cepat sekarang karena saya sudah mau keluar,” Kinan merespon melalui sambungan telepon.

Usai menutup telepon, Kinan, sebagai Kepala PKBM Hutuo Lestari melanjutkan pekerjaannya di depan laptop sembari mengawasi peserta didik yang sedang melakukan simulasi ANBK 2025.

Ya, para peserta didik Paket C hari ini Rabu, (30/7) sedang melakukan gladi ANBK 2025 sebelum resmi melaksanakan ujian besok hari.

Tidak sampai 30 menit usai obrolan di telepon, laki-laki itu akhirnya tiba di depan PKBM Hutuo Lestari.

“tunggu sebentar ya, saya siapkan dulu. Silakan duduk,” Kinan menyapa dan mempersilakan.

Kinan bergegas masuk ke ruangan berkas, sementara Samsudin Saleh, laki-laki dalam telepon itu menunggu di teras. Ia datang bersama rekannya.

Maksud kedatangannya adalah meminta legalisir akreditasi lembaga yang dimiliki oleh PKBM Hutuo Lestari.

Hal itu dilakukan sebagai salah satu syarat dirinya melamar pekerjaan.

“iya, selain ijazah, sepertinya sekarang semua diminta legalisir akreditasi untuk melamar kerja,” kata Samsudin.

Samsudin mengatakan, saat ini dirinya sedang berjuang untuk mendapatkan pekerjaan di suatu perusahaan yang ada di Gorontalo.

Ia bercerita dalam perjuangannya mendapatkan pekerjaan, dirinya harus bersaing dengan beberapa kandidat lain. Total hingga saat ini tersisa tiga orang.

“ada dua orang, mereka lulusan dari sekolah formal,” kata Samsudin.

Meski menjadi satu-satunya kandidat yang berasal dari pendidikan nonformal, semangat dan kepercayaan diri Samsudin tidak kendor.

Ia bertekad menunjukkan, bahwa pendidikan di manapun itu tidak ada bedanya.

“ini ijazah kan cuma sebagai bukti bahwa kita pernah sekolah,” tegasnya.

Bahkan lebih jauh, Samsudin menegaskan jika dari pendidikanlah bisa membangun pola pikir dan memperbaiki diri.

“kita harus punya cara untuk berargumen dengan siapapun yang masih menganggap remeh (pendidikan nonformal),” timpalnya.

Baginya, bisa melanjutkan pendidikan adalah sebuah keberuntungan, meskipun Ia sendiri sempat kesulitan, hingga mengalami keterlambatan.

“harusnya saya bisa lulus lebih cepat, cuma karena ada satu hal jadi terlambat. Tapi saya tetap kejar itu,” katanya.

Samsudin juga berpesan kepada para peserta didik yang saat ini sedang menempuh pendidikan kesetaraan untuk tidak pernah merasa malu.

“Tetaplah mengejar pendidikan walaupun tertinggal jauh, karena pendidikan itu ada dalam pikiran, dan melekat pada diri,” tutup Samsudin.

Obrolan tersebut akhirnya terhenti saat Kinan selesai menyiapkan apa yang dibutuhkan Samsudin.

Sebelum mengakhiri perjumpaan, Kinan memberikan sedikit respon terkait cerita Samsudin.

Secara pribadi, dirinya cukup terkejut saat Samsudin meminta legalisir akreditasi lembaga sebagai salah satu persyaratan melamar kerja.

Karena menurutnya, selama ini hal itu hanya identik dan sering terjadi di level pendidikan tinggi.

“dulu cuma sarjana-sarjana yang minta seperti itu untuk kerja,” kata Kinan.

Namun Kinan juga melihat hal tersebut sebagai angin segar bagi pendidikan nonformal.

Karena dengan begitu bisa menjadi dorongan bagi lembaga-lembaga pendidikan nonformal untuk terus lebih baik, tak terkecuali PKBM Hutuo Lestari yang Ia pimpin.

“sebagai Kepala PKBM, saya semakin bersemangat untuk memperbaiki kualitas PKBM,” kata Kinan.

Dirinya juga bersyukur karena PKBM Hutuo Lestari masih menyandang predikat Akreditasi A sejak tahun 2019.

“semoga bisa mempertahankan, dan meningkatkan kualitas layanan lebih baik lagi,” pungkasnya.

Pertemuan hari itu akhirnya ditutup dengan foto penyerahan berkas akreditasi yang telah dilegalisir.

Cerita dari Samsudin menjadi bukti bahwa pendidikan adalah proses belajar sepanjang kita masih diberi hidup.

Dan memilih pendidikan kesetaraan sebagai jalan adalah sebuah keberanian; keberanian menghadapi rintangan, keberanian menuju pemahaman lebih jauh, dan keberanian pengembangan diri yang berkelanjutan.

Semoga mendapatkan pekerjaan yang diimpikan, Samsudin.

****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Popular Articles